CIREBON ERA PEMERINTAHAN SUNAN GUNUNGJATI
CIREBON ERA PEMERINTAHAN SUNAN GUNUNGJATI
Sumber tentang masuknya islam ke Cirebon adalah Naskah Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari yang berisi tentang kehadiran Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) di Cirebon tahun 1470 M yang mengajarkan islam di gunung Sembung. (Poesponegoro & Notosusanto, 2008: 59)
Sunan Gunungjati menikah dengan Pakungwati putri uaknya (Haji Abdullah) dan pada 1479, beliau menggantikan mertuanya jadi penguasa Cirebon dengan gelar Tumenggung (Susuhunan) Syarif Hidayatullah. (Taniputera, 2017: 40)
Selain sebagai penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah juga mendapat gelar wali yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.
Ambari (dalam Erwantoro, 2012: 172) menyebutkan bahwa setelah jadi penguasa, langkah awal yang dijalankan oleh Sunan Gunungjati adalah menggalang kekuatan terlebih dahulu dengan Demak dan kekuatan-kekuatan islam lainnya serta melepaskan diri dari kekuasaan Sunda Pajajaran.
Di masa Sunan Gunungjati, Cirebon menghentikan upeti pada kerajaan Sunda Pajajaran dan menyatakan bahwa Cirebon adalah kerajaan yang merdeka dari Pajajaran.
Pajajaran merespon dengan memerangi Cirebon dibawah pimpinan Tumenggung Jagabaya, namun Pajajaran dengan mudah dikalahkan pasukan Cirebon, bahkan Tumenggung Jagabaya berbalik mengabdi pada Sunan Gunungjati.
Selain memisahkan diri dari Pajajaran, di era Sunan Gunungjati didirikan Mesjid Agung Cipta Rasa dan islam mulai disebarkan ke Kuningan, Talaga, dan Galuh sekitar 1528-1530. Islam juga disebarkan bersama putranya Maulana Hasanuddin ke Banten pada 1525-1527.
Pada tahun 1526 Demak dan Cirebon berkoalisi untuk mengusir Portugis dari Sunda Kalapa (Sekarang Jakarta). Melalui bukti Padrao diketahui bahwa Portugis (Katolik) berkoalisi dengan Pajajaran (Hindu). Koalisi Demak-Cirebon berhasil mengalahkan dan mengusir Portugis dari perairan Nusantara.
Setelah kemenangan itu, Sunda Kalapa diganti namanya jadi Jayakarta. Fatahillah yang memimpin ekspedisi mengalahkan Portugis dinikahkan dengan anaknya sunan Gunung Jati yang bernama Nyai Ratu Ayu. (Taniputera, 2017: 41)
Sunan Gunungjati terus menaklukan dan menyatukan berbagai wilayah di sekitar Cirebon. Perlahan kerajaan Cirebon makin membesar.
Setelah bertahun-tahun memajukan kerajaan Cirebon, Sunan Gunungjati wafat tahun 1568 dan dimakamkan di Bukit Sembung yang terkenal dengan Makam Gunungjati.
Sumber:::
Erwantoro, Heru (2012) Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Vol.4 No.1
Poesponegoro, M D & Notosusanto, N (2008) Sejarah Nasional Indonesia Jilid III : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Taniputera, Irvan (2017) Ensiklopedi Kerajaan-Kerajaan Nusantara Hikayat dan Sejarah Jilid I. Yogyakarta: Ar Ruz Media.
Komentar
Posting Komentar