Review Film Max Havelaar
REVIEW MAX HAVELAAR: FILM TENTANG PEJABAT INDONESIA YANG SUDAH TERBIASA KORUPSI DAN MENINDAS RAKYAT SEJAK ERA PENJAJAHAN BELANDA
~ Judul Film : Max Havelaar (1976)
~ Sutradara : Fons Rademakers
~ Penulis Naskah : Multatuli (novel), Gerard Soeteman
~ Produser : Hiswa Darmaputera
~ Pemeran : Peter Faber, Elang Ademan, Soesilaningrat, Sacha Bulthus, Carl van der plas, Frans Vorstman
~ Durasi : 2 jam 43 menit, atau 163 menit.
~ Bahasa : Belanda dan Indonesia
~ Negara Asal Film : Belanda dan Indonesia
~ Produksi : PT Mondial Motion Pictures (Jakarta) dan Fons Rademakers Pictures B.V. (Amsterdam).
RINGKASAN FILM
Film Max Havelaar mengambil setting waktu tahun 1850-1860 di daerah Lebak, Banten. Film dibuka dengan dirampasnya seekor kerbau milik rakyat oleh Demang untuk dipersembahkan kepada bupati Lebak. Salah satu anak petani langsung ditembak mati oleh tentara Belanda karena melawan.
Lalu plot selanjutnya adalah asisten residen Lebak Soletering yang diracun dalam jamuan makan malam oleh Bupati Lebak karena Asisten Residen Lebak tersebut memperingatkan sang Bupati yang terlalu banyak menutut rakyat, terlalu banyak pajak, terlalu banyak kerbau, terlalu banyak bekerja.
Soletering yang tahu akan korupsi dan penindasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak berniat untuk mengungkap kejadian itu. Sang Bupati akhirnya meracuni Soletering.
Kasus terbunuhnya Soletering ini tidak diusut karena sang dokter yang memeriksa Soletering membuat laporan bahwa Soletering meninggal bukan diracun tapi karna penyakit liver.
Di akhir film nantinya istri Soletering akan melaporkan kasus diracun suaminya ke Max Havelaar.
Lanjut ke lanjutan film yakni tahun 1855, Max Havelaar datang ke Hindia Belanda, ia ditempatkan di Lebak sebagai Asisten Residen baru disana menggantikan Asisten Residen Sebelumnya (Soletering).
Setelah berkeliling Max Havelaar mendapati fakta bahwa wilayah Lebak itu subur dan bagus untuk pertanian namun sayangnya rakyat Lebak miskin dan menderita karena adanya penindasan dan pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak yang mempekerjakan rakyat tanpa upah, memungut pajak beras, buah-buahan, dan kerbau yang membuat banyak rakyat kelaparan.
Rakyat banyak dipekerjakan untuk membersihkan alun-alun tanpa dibayar dan mengambil paksa kerbau rakyat tanpa dibayar untuk dipersembahkan kepada para tamunya bupati.
Max Havelaar bermaksud untuk mengusut dan melaporkan kekejaman tersebut. Namun dia mendapatkan teror ancaman pembunhan terhadap anaknya.
Pada saat anak Max Havelaar bermain di halaman rumah dinas asisten residen itu banyak sekali ular. Lalu orang bawahannya Max Havelaar menyebut bahwa ular itu adalah ular kiriman.
Setelah itu istri dari Asisten Residen sebelumnya (Soletering) mempringatkan Max Havelaar agar tidak ikut dalam jamuan makan malam. Ia memeberitahu Max Havelaar bahwa suaminya mati diracun oleh Demang dan Bupati. Namun sang istri tersebut tidak berani melaporkan pada Residen karena Residen dan Bupati itu bersekongkol.
Di tempat lain ada Saidjah dan Adinda yang dikejar-kejar oleh pasukan Bupati untuk ditangkap karena membahayakan posisi bupati. Selain itu, bapaknya Saidjah dibunuh saat meminta uang dari Kerbaunya yang diambil oleh pasukan Demang untuk persembahan pada Bupati.
Saidjah dan Adinda melarikan diri.
Saidjah menyebrang ke Lampung untuk bergabung dengan pemberontak disana. Sedangkan Adinda pergi menemui Max Haveaar.
Max Havelaar berencana untuk membawa Adinda sebagai saksi bagaimana korupsi dan kebiadaban bupati Lebak. Di perjalanan, ketrika Max Havelaar menyapa warga untuk berpamitan, Adinda malah melarikan diri untuk menyusul kekasihnya Saidjah ke Lampung.
Di Lampung, Saidjah dan Adinda akhirnya mati terbunuh ketika berhadapan dengan tentara Belanda. Semenatar itu Max Havelaar sudah ke istana Gubernur Jendral Belanda. Namun tak disangka sang Gubernur Jendral menolak aduan Max Havelaar.
Dapat diketahui bahwa sang bupati dan Gubernur Jendral telah bersekongkol. Sehingga diakhir film Max Havelaar marah pada melihat photo gubernur Jendral yang telah mengakibatkan 30 juta rakyat jawa menderita di bawah kekuasaannya. Max Havelaar akhirnya dimutasi menjadi asisten Residen di Ngawi, dia akhirnya mengaku kalah.
KELEBIHAN FILM
~ Film ini berhasil menggambarkan suasana tahun 1850 an. Penonton dibawa kembali ke era kolonial.
~ Penggambarkan sangat menarik hingga penonton merasakan apa yang dirasakan Max Havelaar.
~ Penggunaan dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan Belanda menambah kesan realistis
~ Para aktor sangat menjiwai perannya, terutama pemeran sosok Demang yang terlihat menonjol.
KEKURANGAN
~ Dalam film ini, menggunakan bahasa Indonesia yang modern bukan bahasa melayu klasik.
~ Latar belakang Max Havelaar tidak berkesinambungan, karena pada awal film Max Havelaar menawarkan hasil karyanya tentang perbudakan di Jawa, namun plot selanjutnya Max Havelaar malah jadi Asisten Residen di Lebak.
KESIMPULAN
Film ini layak di tonton dan dijadikan acuan terutama untuk memahami sejarah politik di era penjajahan Belanda era 1850-1860-an.
Dari film ini dapat diketahui bahwa yang menjajah Indonesia bukan hanya orang Belanda, tapi para elit politik pribumi yang bekerja sama dengan Belanda.
Di film ini kita akan mengetahui sistem politik indirect rules, yakni pemerintahan tidak langsung Belanda yang memerintah lewat para Bupati.

Komentar
Posting Komentar