Bencana Alam dan Penulisan Sejarah

Bencana Alam dan Penulisan Sejarah
Krakatau 1883 dan Cilegon 1888

Penulis A.B. Lapian
Pulitbang Kemasyarakatan dan kebudayaan 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Dalam historiografi kedinastian Tiongkok kuno bencana alam memainkan peranan penting, terutama pada waktu ada pergantian dinasti . Masa akhir setiap dinasti, demikianlah menurut sejarah ynag dituturkan , selalu disertai dengan macam bencana alam , seperti luapan banjir sungai kuning yang menyebabkan kerusakan besar , rakyat kelaparan, menyebarnya wabah penyakit, kebakaran, dan sebagainya . 

Bencana alam ini diartikan sebagai petanda bahwa Mandat dari atas (Langit, tien) yang diberikan kepada kaisar/dinasti yang berkuasa sudah berakhir dan perlu dialihkan kepada dinasti yang baru. 

Di Indonesia, menurut kepercayaan masyarakat tradisional , bencana alam pun merupakan faktor penting dalam masa peralihan . Dalam tradisi lisan masa pancaroba- ketika segala sesuatu serba kalut dan keadaan tidak menentu baik dalam sektor politik , sosial budaya maupun ekonomi sering diceritakan pula bahwa lingkungan alamiah pun turut menjadi tak karuan , disertai badai, letusan gunung api, banjir, dan sebagainya. 

Memang ada korelasi antara keadaan alam dan ekonomi , misalnya musim kemarau yang berkepanjangan atau bencana banjir bisa mempengaruhi keadaan ekonomi setempat , sedangkan kesulitan ekonomi ini bisa juga merembes kesektor budaya, sosial dan politik. 

Sebaliknya merosotnya kestabilan politik disuatu tempat tidak hanya membawa akibat dalam sektor ekonomi dan sosial-budaya tetapi bisa juga menjadi penyebab bahwa lingkungan alamiah tidak terpelihara , seperti bendungan yang kurang terawat sehingga rusak dan mengakibatkan banjir dan malapetaka lain . Jadi dalam beberapa hal terjadinya bencana alam memang dapat dijelaskan sebagai akibat dari ulah manusia , seperti banjir yang setiap tahun melanda suatu daerah sebagai akses penerbangan hutan di wilayah pegunungan.

Ada kalanya pula, terutama dikalangan masyarakat tradisional yang berkembang kepada kepercayaan akan perlunya pemeliharaan ketertiban dan keseimbangan tata kosmos , sebab musabab suatu bencana alam (yang dilihat sebagai tergoncangnya keseimbangan tata kosmos tersebut) biasanya dicari dan ditemukan pada tingkah laku yang menyimpang oleh salah seorang atau beberapa anggota masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal demikian bencana alam diartikan dan dihayati sebagai suatu hukuman kolektif terhadap masyarakat yang menaungi pelaku-pelaku yang telah menyimpang dari norma moral dan etika yang dianut bersama. Tata kosmos yang telah diganggu dan tercemar perlu dibersihkan dengan air banjir atau api vulkanis untuk membentuk tata masyarakat ynag baru.

Mitos tentang terciftanya Pulau-pulau Sangihe di Sulawesi Utara mengandung unsur ynag serupa . Menurut kata ynag empunya cerita , mula-mula tanah Sangihe merupakan suatu daratan yang terhubung dengan pulau Mindanao. Di tanah ini , tanah Mahengetan, yang dikepalai oleh Makadupeluh , penduduk bisa berjalan kaki ke Mindanao seperti ynag pernah dilakukan oleh tokoh Masambehtiroh. 

Malapetaka terjadi ketika Makadupeluh mengadakan perkawinan sumbang dengan saudaranya sendiri, Taroara.  berupa gempa bumi, letusan gunung api, dan ampuhan air laut yang mengakibatkan tanah Mahangetan terbenam.

Kepualuan Sangihe merupakan sisa-sisa tanah daratan yang dahulu pernah menyatu dengan Mindanao. Nama Sangihe (asalnya 'Sangi' : menangis) konon asalnya dari ratapan tangis penduduk yang kehilangan sanak saudaranya dalam bencana ynag dahsyat itu. Cerita ini didukung dengan teori Geologi bahwa Sulawesi dan mindanau dulunya menyatu melalui Sangihe.

Cerita lain di guung api Gamlamo Ternate meletus 1840. Erupsi selama sebulan mengguncang penduduk . Di seluruh pulau rumah runtuh baik itu rumah penduduk pribumi maupun eropa. 

Faktor-yang membuat gunung meletus menurut penduduk adalah karena penduduk Tobona dituduh berzinah dengan anaknya. Lalu peristiwa kedua adalah keluarga Sultan Palembang yang diasingkan di Ternate digunjingkan melakukan hungan tak patut dengan menantunya. Well wibawa sultan lokal dilkalahkan oleh kolonial waktu itu.

Bencana lainnya adalah erupsi gunung Dukuno di Halmahera Utara pada abad XVI. Tahun 1550 an gunung ini meletus , jumlah penduduk berkurang drastis , pualu itu di huni orang Moro yang harus menghadapi bencana dan juga Portugis. Orang Moro akhirnya punah, peninggalan yang meningatkan kita pada orang moro adalah adanya pulau Morotai. 

Menurut teori Boehari, pemindahan kekuasaan Mataram Kuno dari Jateng ke Jatim ini disebabkan meletusnya gunung api. Begitupun di Sumbawa dengan meletusnya gunung tambora. Meletusnya gunung tambora disebabkan ulah manusia . Gunug itu meletus sebagai hukuman untuk Papekat dan Tambora aas perlakuannya terhadap Haji Musthafa yang diapandang keramat.

Gunung api krakatau meletus 26 dan 27 agustus 1883, 30.000 orang ampai 40.000 meninggal. menurut Mohammed Saleh karena hukum islam tidak dijalankan. Di Banten menurut penduduk sana perayaan nikah tidak boleh bareng dengan khitanan. 5 tahun setelah Erupsi ada persitiwa gerakan petani Banten..

Gerakan Petani Banten

menjadi pokok sisertasi Dr. Sartono Kartodirdjo . Awalnya terjadi di Cilegon lalu nyebar keseluruh Bnaten , dampaknya dirasakn keseluruh Jawa. Di latar belakang sosio-ekonomi disertasi tersebut tidak lupa menyebut alasan erupsi gunung Krakatau yang mengubah desa makmur dengan sawah subr ah yang gersang dan tandus. 

Pada akhir 1883 polisi Bnaten nyita pamflet yang ngajak masyarakat supaya mementingkan kewajiban agama. Gunung meletus (Krakatau) itu menandakan bahwa dunia kan segera kiamat makannya rakyat harus rajin sembahyang. 

Komentar