Mesir dan Sudan Merdeka
Alur Kemerdekaan Mesir
Terusan Suez adalah terusan yang menjadi tonggak sejarah dunia, terusan ini menjadi awal dari kemudahan akses transportasi laut antara benua Eropa dan Asia tanpa mengelilingi benua Afrika terlebih dahulu. Ketika terusan ini dibuat (1869) , Inggris tertarik untuk menanamkan pengaruhnya. Tokoh yang pertama kali menginginkah terusan Suez menjadi wilayah Inggris adalah Benjamin Disraeli (1874-1880).
Benjamin Disraeli mewakili golongan "Empire" atau golongan "Imperialisme'. Ia bercita-cita melakukan perluasan kerajaan Inggris dan mempererat kembali hubungan antara koloni dan negeri induk, sehingga mencapai Empire yang meliputi seluruh dunia. Selain golongan Empire, pada saat di Inggris juga terdapat golongan Pasifis atau Zlittle Englander.
Kaum Pasifis atau Zlittle Englander menghendaki pemusatan perhatian kepada pembangunan dalam negeri, mereka tidak tertarik untuk melakukan imperialisme karena khawatir menimbulkan krisis-krisis international. Salah satu tokoh kaum Pasifis adalah Gladstone.
Kaum Pasifis atau Zlittle Englander menghendaki pemusatan perhatian kepada pembangunan dalam negeri, mereka tidak tertarik untuk melakukan imperialisme karena khawatir menimbulkan krisis-krisis international. Salah satu tokoh kaum Pasifis adalah Gladstone.
Antara Gladstone dengan Disraeli ini terjadi persaingan merebutkan jabatan perdana mentri.
Gladstone berasal dari partai Liberal, sedangkan disraeli berasal dari partai Konservatif. Arah kebijakan Gladstone ini menginginkan kebebasan dan tanpa pertikaian. Sedangkan Disraeli yang sangat dekat dengan para burjois Inggris mengarahkan kebijakannya kepada perluasan kekuasaan. Disraeli dikenal sangat ambisius dan bercita-cita untuk membangun Great Britain.
Untuk mencapai cita-citanya mengenai "Great Britain" Disraeli mulai melakukan perluasan kekuasaan, Pada 1874 ketika menjadi perdana mentri menggantikan Gladstone, kepulauan Fiji di laut Pasifik diduduki. Lalu dengan meminjam uang dari Bank Rotschilds sebesar E 4.080.000 ia membeli saham terusan Suez. Alasan Disraeli bernafsu sekali menguasai Suez adalah karena terusan Suez ini menjadi penghubung antara Inggris dengan jajahannya India.
Selain Inggris, Prancis juga bernafsu untuk menguasai Suez, hal ini menyebabkan kedua negara imperialis ini bertikai. Pertikaian Inggris-Prancis berlangsung sangatlah lama dan baru di selesaikan melalui Morroco -Egyptian-Agreement .
Ahmad Arabi memimpin Gerakan nasional Mesir
Latar Belakang
Waktu itu Mesir sedang dipimpin oleh raja Khedive Ismail. Khedive Ismail (1863-1897) merupakan penguasa yang sangat boros. Selama ia memerintah 16 tahun uang yang dibelanjakan adalah sebesar 90 juta pound, uang itu diperlukan untuk menaklukan Sudan. Ia juga memberikan upeti kepada penguasa Turki karena gelar kehormatan Khedive.
Waktu itu Mesir sedang dipimpin oleh raja Khedive Ismail. Khedive Ismail (1863-1897) merupakan penguasa yang sangat boros. Selama ia memerintah 16 tahun uang yang dibelanjakan adalah sebesar 90 juta pound, uang itu diperlukan untuk menaklukan Sudan. Ia juga memberikan upeti kepada penguasa Turki karena gelar kehormatan Khedive.
Ismail juga membeli tanah-tanah mulik tuan tanah di Mesir, tanah miliknya menjadi sangat luas yaitu sebesar 916.000 area. Dampaknya sangat serius bagi hutang Mesir. Hutang Mesir yang pada awalnya berjumlah 3 juta pound di tahun 1863 bertambah jadi 80 juta tahun 1876.
Untuk mencegah bangkrutnya negara. Ismail menjual aset saham Suez. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Inggris. Maka sejak saat itu Inggris mulai intervensi masalah dalam negri Mesir. Namun ternyata uang hasil menjual saham tidak mencukupi untuk membyar hutangnya. Ismail kemudian meminjam uang lagi ke Inggris dan Prancis. Inggris merespon dengan mengutus perwakilannya.
Mengutip dari Soeratman (2012:62) tentang utusan Inggris untuk Mesir bahwa: " Pemerintah Inggris mengirimkan Stepen Cave untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan keuangan Mesir. Hasil laporan itu menerangkan bahwa kemakmuran daerah itu dapat diharapkan tetapi untuk mendapatkannya diperlukan metode-metode keuangan yang lebih teliti dan rapi.
Dampak dari penyelidikan itu maka dibentuklah suatu panitia untuk mengurusi kemakmuran Mesir. Bahaya kebangkrutan negara dapat diatasi tapi seperdua penghasilan negara mesir berada dibawah pengawasan panitia International yang disebut Comite pour la Dette Publique (1876). Panitia ini terdiri dari Inggris, Austria, Italia, Prancis dan Jerman.
Pembaruan diadakan baik itu dalam politik maupun keuangan. Mesir dijadikan kerajaan konstitusional, dan mentri keuangannya adalah seorang Inggris bernama Wilson dan mentri pekerjaan Umum adalah seorang Prancis bernama De Blignieres. Dari 2 jabatan mentri tersebut, dapat diketahui bahwa intervensi oleh negara barat sudah di mulai.
Intervensi yang semakin menjadi-jadi membuat raja Khedive Ismail keberatan. Setelah tahu bahwa semua saudagar pemilik tanah di Mesir juga tidak menyukai intervensi 2 mentri asing tersebut, Raja Khadive bermaksud untuk melakukan sabotase terhadap pelaksanaan 2 mentri tersebut. kedua mentri asing ersebut di pecat oleh Khadive dan kabinet yang baru dibentuknya. Tindakan Khadive ini ditentang oleh Inggris dan Prancis. Kedua negri tersebut meminta agar Khadive turun jabatan, tetapi di tolak oleh Ismail. Inggris dan Prancis lalu membujuk Turki agar Ismail diganti anaknya Tewfik.
Akhirnya Ismail terpaksa di intervensi kedua negara tersebut. " dual kontrol" itu berlangsung dari 1879 sampai 1883. dibuatlah peraturan baru, penarik pajak diperberat terutama untuk tuan tanah Mesir . Untuk menjaga menjaga keuangan tetap sehat, maka para "penasihat" Inggris-prancis menganjurkan mengurangi gaji pegawai dan opsir-opsir tentara. 2500 orang opsir mendapat setengah gaji saja.
Akibat intervensi ini menyebabkan membaranya nasionalisme di mesir, terlebih untuk para pegawai dan opsir yang di potong gajinya. Pemberontakan itu dipimpin oleh Kolonel Ahmad Arabi. Pengikut Arabi menolak "dual kontrol" dan menggeloran semboyan 'Mesir untuk orang Mesir".
Tahun 1881 pendukung Arab mendesak Khedive Ismail mengundang "Perwakilan orang-orang terkemuka ", yaitu semacam parlemen aristokrasi untuk bersidang. Sidang tersebut menuntut adanya kabinet yang lebih baik , adanya hak-hak parelemen untuk pembayaran hutang . Pada 1882 Tewfik dipaksa mengangkat arabi sebagai mentri pertahanan.
Sejak 1880 hingga 1885 pemerintahan di Inggris di pegang oleh PM Gladstone, ia sebenarnya dari partai liberal tapi ajaran liberalnya tidak dipakai, sebab di dalam kabinetnya terdapat tokoh imperialisme seperti Sir Charles Dilke, penulis buku Great Britain. Suara publik Inggris juga semakin imperialistis. Gladstone yang ingin memenuhi tuntutan rakyatnya , berusaha memepersatukan kedua macam ideologi tersebut. Di mesir pemerintahan Gladstone bersifat imperialistis. padahal penguasanya adalah liberal.
Reaksi Inggris dan Prancis terhadap gerakan Arabi ini adalah dengan menyatakan bahwa mereka melindungi Khedive terhadap ancaman-ancaman dalam dan luar negri. Dengan memperkuat kedudukan raja dan demonstrasi angkatan laut, Inggris dan prancis menuntut Arabi dipecat dari jabatan mentrinya.
Namun tuntutan itu menyebabkan semangat anti asing membara. di kota Iskandariyah terjadi keributan, menyebabkan kurang lebih 50 warga eropa jadi korban. Saat itu Arabi telah memperkuat diri dan perkubuannya di iskandariyah.
Pada 1882, Admiral Seymour memerintahkan agar kapal-kapal perang Inggris memuntahkan peluru-pelurunya. Prancis meninggalkan Iskandariah karena Freycinet yang merupan pengganti Gambetta tidak melanjutkan imperialisme di mesir. Freycinet di tentang diparlemen terutama oleh Clemenceau dari partai radikal yang menuntut politik balas dendam (revanche) terhadap Jerman.
Karena Prancis tidak dapat membantu Inggris memerangi kaum nasionalis Mesir, maka Inggris menghubungi Italia dan Turki. Tapi kedua negara itu menolak, akhirnya Inggris bertindak sendiri. Tentara Inggris mendarat di Port Said dibawah pimpinan Jendral Wolseley. Akhirnya perlawanan Arabi dapat di brangus di pertempuran Tel- el-Kebir pada 1882. Arabi diasingkan ke Sailan. Tentara Mesir harus berada di bawah koordinasi opsir-opsir Inggris.
Dual control yang di lakukan untuk mengintervensi Mesir, kini menjadi single control atau British control. Secara nampak pemerintah Mesir dikendalikan oleh khedive namun yang mengemudikannya adalah Lord Cromer (mentri keuangan). Selama setengah abad Inggris menjajah Mesir. (Soeratman. 2012:62)
Alur Kemerdekaan SudanMengutip dari Soeratman (2012:62) tentang utusan Inggris untuk Mesir bahwa: " Pemerintah Inggris mengirimkan Stepen Cave untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan keuangan Mesir. Hasil laporan itu menerangkan bahwa kemakmuran daerah itu dapat diharapkan tetapi untuk mendapatkannya diperlukan metode-metode keuangan yang lebih teliti dan rapi.
Dampak dari penyelidikan itu maka dibentuklah suatu panitia untuk mengurusi kemakmuran Mesir. Bahaya kebangkrutan negara dapat diatasi tapi seperdua penghasilan negara mesir berada dibawah pengawasan panitia International yang disebut Comite pour la Dette Publique (1876). Panitia ini terdiri dari Inggris, Austria, Italia, Prancis dan Jerman.
Pembaruan diadakan baik itu dalam politik maupun keuangan. Mesir dijadikan kerajaan konstitusional, dan mentri keuangannya adalah seorang Inggris bernama Wilson dan mentri pekerjaan Umum adalah seorang Prancis bernama De Blignieres. Dari 2 jabatan mentri tersebut, dapat diketahui bahwa intervensi oleh negara barat sudah di mulai.
Intervensi yang semakin menjadi-jadi membuat raja Khedive Ismail keberatan. Setelah tahu bahwa semua saudagar pemilik tanah di Mesir juga tidak menyukai intervensi 2 mentri asing tersebut, Raja Khadive bermaksud untuk melakukan sabotase terhadap pelaksanaan 2 mentri tersebut. kedua mentri asing ersebut di pecat oleh Khadive dan kabinet yang baru dibentuknya. Tindakan Khadive ini ditentang oleh Inggris dan Prancis. Kedua negri tersebut meminta agar Khadive turun jabatan, tetapi di tolak oleh Ismail. Inggris dan Prancis lalu membujuk Turki agar Ismail diganti anaknya Tewfik.
Akhirnya Ismail terpaksa di intervensi kedua negara tersebut. " dual kontrol" itu berlangsung dari 1879 sampai 1883. dibuatlah peraturan baru, penarik pajak diperberat terutama untuk tuan tanah Mesir . Untuk menjaga menjaga keuangan tetap sehat, maka para "penasihat" Inggris-prancis menganjurkan mengurangi gaji pegawai dan opsir-opsir tentara. 2500 orang opsir mendapat setengah gaji saja.
Akibat intervensi ini menyebabkan membaranya nasionalisme di mesir, terlebih untuk para pegawai dan opsir yang di potong gajinya. Pemberontakan itu dipimpin oleh Kolonel Ahmad Arabi. Pengikut Arabi menolak "dual kontrol" dan menggeloran semboyan 'Mesir untuk orang Mesir".
Tahun 1881 pendukung Arab mendesak Khedive Ismail mengundang "Perwakilan orang-orang terkemuka ", yaitu semacam parlemen aristokrasi untuk bersidang. Sidang tersebut menuntut adanya kabinet yang lebih baik , adanya hak-hak parelemen untuk pembayaran hutang . Pada 1882 Tewfik dipaksa mengangkat arabi sebagai mentri pertahanan.
Sejak 1880 hingga 1885 pemerintahan di Inggris di pegang oleh PM Gladstone, ia sebenarnya dari partai liberal tapi ajaran liberalnya tidak dipakai, sebab di dalam kabinetnya terdapat tokoh imperialisme seperti Sir Charles Dilke, penulis buku Great Britain. Suara publik Inggris juga semakin imperialistis. Gladstone yang ingin memenuhi tuntutan rakyatnya , berusaha memepersatukan kedua macam ideologi tersebut. Di mesir pemerintahan Gladstone bersifat imperialistis. padahal penguasanya adalah liberal.
Reaksi Inggris dan Prancis terhadap gerakan Arabi ini adalah dengan menyatakan bahwa mereka melindungi Khedive terhadap ancaman-ancaman dalam dan luar negri. Dengan memperkuat kedudukan raja dan demonstrasi angkatan laut, Inggris dan prancis menuntut Arabi dipecat dari jabatan mentrinya.
Namun tuntutan itu menyebabkan semangat anti asing membara. di kota Iskandariyah terjadi keributan, menyebabkan kurang lebih 50 warga eropa jadi korban. Saat itu Arabi telah memperkuat diri dan perkubuannya di iskandariyah.
Pada 1882, Admiral Seymour memerintahkan agar kapal-kapal perang Inggris memuntahkan peluru-pelurunya. Prancis meninggalkan Iskandariah karena Freycinet yang merupan pengganti Gambetta tidak melanjutkan imperialisme di mesir. Freycinet di tentang diparlemen terutama oleh Clemenceau dari partai radikal yang menuntut politik balas dendam (revanche) terhadap Jerman.
Karena Prancis tidak dapat membantu Inggris memerangi kaum nasionalis Mesir, maka Inggris menghubungi Italia dan Turki. Tapi kedua negara itu menolak, akhirnya Inggris bertindak sendiri. Tentara Inggris mendarat di Port Said dibawah pimpinan Jendral Wolseley. Akhirnya perlawanan Arabi dapat di brangus di pertempuran Tel- el-Kebir pada 1882. Arabi diasingkan ke Sailan. Tentara Mesir harus berada di bawah koordinasi opsir-opsir Inggris.
Dual control yang di lakukan untuk mengintervensi Mesir, kini menjadi single control atau British control. Secara nampak pemerintah Mesir dikendalikan oleh khedive namun yang mengemudikannya adalah Lord Cromer (mentri keuangan). Selama setengah abad Inggris menjajah Mesir. (Soeratman. 2012:62)
Anglo Egyptian Sudan (Perlawanan Sudan Terhadap Inggris-Mesir)
Menurut Theobald (1951:8) Tahun 1821 merupakan tonggak sejarah modern Sudan. Nasib Sudan ditentukan sejak Mohammad Ali (penggagas mesir Modern) menanamkan kekuasaannya di Sudan. Orang-orang yang berasal dari utara Sudan ini melakukan penjajahan, eksploitasi dan memasukan peradaban. Kepala negara Sudan dipegang oleh Gubjen yang harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya ke Khadive (Wali negara Turki). Dibawah pangkat Gubjen ada gelar Mudir (Gubernur) yang menguasai setiap Provinsi. Tiap provinsi dibagi menjadi distrik-distrik yang dikuasai Kashif (Pemimpin spiritual).
Tahun 1830 dibangun ibu kota baru di Kartoum oleh Gubjen Kurshid Pasha (1825-1838). Kota Kartoum ini dinilai letaknya lebih strategis dibanding ibu kota lama (Kota Sennar) sebab terdapat pertemuan sungai Nil Putih dan Sungai Nil Biru.
Tokoh yang bernafsu untuk memperluas kekuasaan ke Sudan Selatan adalah Khadive Ismail. Tahun 1869, rencana itu dilaksanakan dan sebuah pemerintahan dibentuk di Bahr el Ghazal. Tahun berikutnya ia menunjuk Sir Samuel Baker sebagai Gubjen. Baker adalah orang Inggris, karena ia telah menjelajahi Sudan, maka ia dirasa cukup memilki pengetahuan tentang Sudan. Bakar disuruh untuk menanamkan kekuasaan di selatan Gondokoro, menindas perdaganagn budak, memasukan sistem perdagangan yang teratur, membuka danau-danau di Afrika tengah dan menghubungkan daerah-daerah yang sudah dikuasai itu dengan pos-pos militer.
Tahun 1871, Baker menduduki Gondokoro, pada 1872 Masindi dan 1873 ia balik ke Kairo , karena kontraknya sudah habis, dan melaporkan kepada Khadive bahwa ia telah menaklukan dan mengamankan daerah-daerah sejauh Equatoria.
Penggi Beker, Ismail menunjuk Charles George Gordon. Sejak 1847 ia diangkat menjadi Gubjen di Equantorial Provinces, seluruh daerah di selatan Fashoda. Gordon juga menambah pos-pos militer di sebelah selatan. Namun banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Berkat kerja kerasnya tahun 1877-1879 ia diangkat menjadi Gubjen di seluruh Sudan. Rakyat Sudan tidak puas. Sehingga timbulah pemberontakan.
Mengutip dari Darsiti (2012:68) pemberontakan yang terbesar adalah pemberontakan oleh Mahdi. yang disebabkan oleh
Situasi kota Khortoum menjadi sangat kritis. Pengikut Mahdi telahmendekat ke Khortoum. Dengan perantaraan surat yang ditulis dalam bahasa Jerman dan Prancis, Mahdi meminta agar Gordon menyerah. Gordon tidak menjawab. Lalu Bhar el Ghazal jatuh dan Stewart dlam petempuran tersebut sampai ke Khartoum. Sekali lagi Mahdi mendesak agar Gordon menyerah tapi Gordon menjawab bahwa ia pantang untuk menyerah dan ia berusaha gar dapat melihat munculnya pengaruh Inggris di Sudan. Akibatnya Gordon dan seluruh tentaranya di kepung oleh pasukan Mahdi (1844). Pada malam hari tanggal 25 januari 1885, Khartoum jatuh ketangan Mahdi. Tentara Inggris terpaksa mengirim ekspedisi untuk menolong Gordon, tapi terlambat, Gordon dan seluruh pasukannya terbunuh.
Berita jatuhnya kota Khartoum sungguh mendebarkan hati ratu Victoris. Gordon disebut seorang "Cristian Hero". Juga suara publik Inggris membela kematian Gordon. Akibat reaksi keras dari rakyat Inggris, kabinet Gladstone runtuh.
Setelah Gladstone runtuh, naiklah Salisbury untuk menjabat sebagai Perdana Mentri Baru, melnjutkan politik Gladstone di Sudan yaitu dengan menarik tentara dari daerah Sudan. Dengan ditariknya pasukan Inggris, maka Inggris dan Mesir kehilangan Sudan untuk sementara waktu.
Beberapa bulan setelah Khartoum jatuh, Nahdi meninggal dunia, Pemerintahan Sudan dipegang oleh anaknya , Kahalifa 'Abd Allahi el Tarishi. Selama 13 tahun Sudan dalam keadaan merdeka. Tamun 1896 terjadi sebuat perselisihan yang dikenal dengan krisis Fashoda
Krisis Fashoda
sedang di ketik
Menurut Theobald (1951:8) Tahun 1821 merupakan tonggak sejarah modern Sudan. Nasib Sudan ditentukan sejak Mohammad Ali (penggagas mesir Modern) menanamkan kekuasaannya di Sudan. Orang-orang yang berasal dari utara Sudan ini melakukan penjajahan, eksploitasi dan memasukan peradaban. Kepala negara Sudan dipegang oleh Gubjen yang harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya ke Khadive (Wali negara Turki). Dibawah pangkat Gubjen ada gelar Mudir (Gubernur) yang menguasai setiap Provinsi. Tiap provinsi dibagi menjadi distrik-distrik yang dikuasai Kashif (Pemimpin spiritual).
Tahun 1830 dibangun ibu kota baru di Kartoum oleh Gubjen Kurshid Pasha (1825-1838). Kota Kartoum ini dinilai letaknya lebih strategis dibanding ibu kota lama (Kota Sennar) sebab terdapat pertemuan sungai Nil Putih dan Sungai Nil Biru.
Tokoh yang bernafsu untuk memperluas kekuasaan ke Sudan Selatan adalah Khadive Ismail. Tahun 1869, rencana itu dilaksanakan dan sebuah pemerintahan dibentuk di Bahr el Ghazal. Tahun berikutnya ia menunjuk Sir Samuel Baker sebagai Gubjen. Baker adalah orang Inggris, karena ia telah menjelajahi Sudan, maka ia dirasa cukup memilki pengetahuan tentang Sudan. Bakar disuruh untuk menanamkan kekuasaan di selatan Gondokoro, menindas perdaganagn budak, memasukan sistem perdagangan yang teratur, membuka danau-danau di Afrika tengah dan menghubungkan daerah-daerah yang sudah dikuasai itu dengan pos-pos militer.
Tahun 1871, Baker menduduki Gondokoro, pada 1872 Masindi dan 1873 ia balik ke Kairo , karena kontraknya sudah habis, dan melaporkan kepada Khadive bahwa ia telah menaklukan dan mengamankan daerah-daerah sejauh Equatoria.
Penggi Beker, Ismail menunjuk Charles George Gordon. Sejak 1847 ia diangkat menjadi Gubjen di Equantorial Provinces, seluruh daerah di selatan Fashoda. Gordon juga menambah pos-pos militer di sebelah selatan. Namun banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Berkat kerja kerasnya tahun 1877-1879 ia diangkat menjadi Gubjen di seluruh Sudan. Rakyat Sudan tidak puas. Sehingga timbulah pemberontakan.
Mengutip dari Darsiti (2012:68) pemberontakan yang terbesar adalah pemberontakan oleh Mahdi. yang disebabkan oleh
- Menentang eksploitasi besar-besaran baik terhadap kekayaan alam , maupun terhadap penduduk.
- Tenaga pegawai untuk daerah Sudan ternyata adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagian besar mereka menganggap bahwa tugas ke Sudan adalah hukuman.
- Walupun kekuasaan Khadive sudah menguasai Darfur, Equatoria dan pantai laut merah, tapi untuk melakukan konsolidasi sangatlah sukar.
Nama sebenarnya dari pemimpin pemberontakan itu adalah Mohammad Ibn Al Saiyid 'Abd Allah, seorang yang mendapat pendidikan islam secara mendalam. kemudian ia sendiri menjadi guru agama. Bersama dengan pengikutnya yang banyak, ia menentang pemerintahan Turki-Mesir yang korup , kejam dan sewenag-wenang. Akhirnya ia diakui sebagai al-Mahdi al Mutazir , yang berarti "pemimpin yang dinantikan". Keyakinan agamanya dan sikapnya yang tegas dan dinamis, duka derita rakyat dan keadaan pemerintahan Mesir yang saat itu berada dalam taraf kemerosotan. Merupakan faktor-faktor yang memungkinkan Mahdi melangsungkan revolusi selama tiga tahun (1881-1884) dengan hasil yang memuaskan.
Ketika El Obeid jatuh ke tangan Mahdi, kota Khartoum berada dalam bahaya. Sulaiman Niyaza Pasha dan Ala'al-Din-Pasha merupakan panglima perang Mesir-Turki. Pada tahun 1883 Hick Pasha , seorang kolonel Inggris, didatangkan di Khartoum,diangkat sebagai wakil panglima dan pemimpin barisan. Ala'al-Din-Pasha diangkat sebagai gubernur jendral sudan. Tapi ekspedisi Hicks ini juga mengalami kegagalan dan ini berarti mahdi menguasai Sudan sebelah Barat. Kekalahan hick membuat pemerintahan Kairo dan London jadi khawatir , juga penduduk ynag berdiam di Khartoum itu jadi gentar.
Ketika pemberontakan Mahdi dimulai, Sudan bagian timur tetap biasa , tidak terpengaruh dengan pemberontakan tersebut. Mayoritas penduduknya adalah suku Bija yang punya kesamaan sedikit dengan Sudan Barat. Mereka tidak sebangsa , bahasa yang dipakai juga berbeda. Pengetahuan suku Bija akan islam sangatlah sedikit.
Muncul seorang berpengaruh dari Timur Sudan yaitu Uthman Diqna. Karena sakit hati oleh usaha perdagangan budaknya ditindas oleh pemerintah, maka ia ingin melakukan pembalsan ke pemerintahan Turki-Mesir yang sedang ruwet. Ia pergi ke El Obeid menemui Mahdi. Oleh Mahdi ia disuruh untuk merebut semua bandar-bandar penting di pantai timur dan menutup jlan Suakin Berber. Uthman Diqna pada awlanya juga selalu mendapat kemenangan. Sinkat di serang olehnya, kemudian menyusul Tokar dan Suakin. Kapten Morerieff, R.N. konsul Inggris di Suakin bersama 148 orang dibunuhnya. Dengan adanya fakta ini maka tentara Mesir diserang dari sebelah barat dan timur Sudan.
Pada 1883 (september) Sir Evelyn Baring tiba di Mesir. Bulan Oktober ia mengirim telegram ke London berisi pertanyaan bagaimana jawaban yang harus diberikan bila pemerintah Mesir meminta bantuan kepadanya. Oleh Lord Granville (mentri luar negri Gladstone) dijawab agar Baring menolak penggunaan tentara Inggris atau India untuk kepentingan Mesir. Baring harus menyampaikan kepada Khadive bahwa Sudan harus dikosongkan.
baring menyarankan ke Khadive supaya penaklukan Sudan disabarkan dulu menunggu keuangan Mesir membaik karena waktu itu mesir tidak punya kekuatan uang maupun tenaga. Namun Khadive tetap ngotot mengirim Valentine Baker (saudara Sir Samuel Baker) dengan tentara 25.000 orang ke Suakin untuk merebut balik Sinkat dan Tokar. Banker gagal dan kedua tempat tersebut masih dikuasai pemberontak.
Para kaum imperialis Inggris menganggap bahwa Inggris wajib membantu Mesir untuk menaklukan Sudan, Namun Gladstone yang berpaham liberal tetap dengan pendiriannya. Bahkan ia melakuka penarikan diri dari dua bandar di laut merah yaitu di daerah Suakin dan Massasua.
Tahun 1884 Gladstone mengirim jendral Charles Gordon Pasha, ynag merupakan bekas Gubjen Sudan , ke Sudan untuk menjalankan tugas dari sang PM. Tapi Gordon meremehkan kekuatan Mahdi. Mahdi dianggap sebagai pemimpin lokal dan memperalat penduduk ynag tidak puas dengan pemerintahan Turki-Mesir ynag korup dan kejam. Ia menggambarkan keadaan Sudan seperti saat ia menjabat sebagai Gubjen 1877-1879. Ia kenal dengan pemrintahan yang jelek di Sudan. Ia tahu reaksi penduduk akan Pasha-Pasha yang korup dan mengumpulkan pajak secara curang.
Tiba di Cairo ia menemui Khedive, Baring dan pembesar-pembesar Mesir lainnya. Ia diytugaskan menjalankan politik evakuasi ke Sudan. Ia diangkat jadi Gubernur jendral oleh Khedive. Ia kemudian pergi ke Khartoum. Kedatangannya disambut hangat oleh penduduk dan tentara Mesir-Inggris yang berada di ibu kota tersebut.
Gordon lalu melakukan penyelidikan. Hasil penyelidikan itu adalah apabila Khortoum jatuh ke pasukan Mahdi, maka akan sulit kota itu untuk direbut lagi. Ia memutuskan untuk membrangus dan menindas pasukan mahdi. Maksud itu disampaikan melalui telegram ke London dan Cairo. Ia meminta bantuan tentara dan perlengkapan perang lainnya.
Situasi kota Khortoum menjadi sangat kritis. Pengikut Mahdi telahmendekat ke Khortoum. Dengan perantaraan surat yang ditulis dalam bahasa Jerman dan Prancis, Mahdi meminta agar Gordon menyerah. Gordon tidak menjawab. Lalu Bhar el Ghazal jatuh dan Stewart dlam petempuran tersebut sampai ke Khartoum. Sekali lagi Mahdi mendesak agar Gordon menyerah tapi Gordon menjawab bahwa ia pantang untuk menyerah dan ia berusaha gar dapat melihat munculnya pengaruh Inggris di Sudan. Akibatnya Gordon dan seluruh tentaranya di kepung oleh pasukan Mahdi (1844). Pada malam hari tanggal 25 januari 1885, Khartoum jatuh ketangan Mahdi. Tentara Inggris terpaksa mengirim ekspedisi untuk menolong Gordon, tapi terlambat, Gordon dan seluruh pasukannya terbunuh.
Berita jatuhnya kota Khartoum sungguh mendebarkan hati ratu Victoris. Gordon disebut seorang "Cristian Hero". Juga suara publik Inggris membela kematian Gordon. Akibat reaksi keras dari rakyat Inggris, kabinet Gladstone runtuh.
Setelah Gladstone runtuh, naiklah Salisbury untuk menjabat sebagai Perdana Mentri Baru, melnjutkan politik Gladstone di Sudan yaitu dengan menarik tentara dari daerah Sudan. Dengan ditariknya pasukan Inggris, maka Inggris dan Mesir kehilangan Sudan untuk sementara waktu.
Beberapa bulan setelah Khartoum jatuh, Nahdi meninggal dunia, Pemerintahan Sudan dipegang oleh anaknya , Kahalifa 'Abd Allahi el Tarishi. Selama 13 tahun Sudan dalam keadaan merdeka. Tamun 1896 terjadi sebuat perselisihan yang dikenal dengan krisis Fashoda
Krisis Fashoda
Nasionalisme Sudan
sedang mengetik
Sumber:
A.B. Theobald (1951). The Madhiya. London-New York. Toronto:Longsman green
Soeratman, Darsiti (2012). Sejarah Afrika. Yogyakarta: Ombak. Halaman: 59-61
A.B. Theobald (1951). The Madhiya. London-New York. Toronto:Longsman green
Soeratman, Darsiti (2012). Sejarah Afrika. Yogyakarta: Ombak. Halaman: 59-61

Komentar
Posting Komentar