Mengulik Hindia Belanda (Indonesia) tahun 1800-1830,
Assalamu alaikum wr.wb.
Salam sejahtera.
Hindia Belanda (Indonesia Sekarang) pada tahun 1800 s/d 1830 mengalami
banyak peristiwa yang sangat menarik untuk dibahas. Dari perjalanan tersebut
akan saya rangkumkan menjadi 7 bagian.
1.
Latar
belakang
Latar
belakang pergantian kekuasaan dari VOC ke Pemerintahan kolonial Belanda disebabkan
VOC bubar (31 desember 1799) karena korupsi
dan meninggalkan hutang 136.7 juta gulden. Hal itu membuat VOC menyerahkan
wilayah Hindia Belanda (Indonesia ) kepada pemerintah Belanda yang saat itu
sedang dijajah Prancis.
Gambar : Mata Uang VOC
Sumber: huiber info
2.
Belanda
dijajah Prancis
Pada
Desember 1794 sampai dengan Januari 1795 Prancis menyerbu Belanda. Penyerbuan
itu sukses mengalahkan pasukan Belanda dan secara otomatis Belanda dijajah
oleh Prancis. Akhirnya raja Belanda pada waktu itu (William V) kabur dari Belanda
untuk meminta perlindungan Inggris.
Gambar: Napoleon Bonapate (pemimpin Prancis)
Sumber : IDN Times
Gambar: William V (Pangeran Oranye), Raja Belanda ketika Prancis menginvasi Belanda
Sumber : entoen nu
Pada saat itu William V tinggal di kota Kew, untuk menjaga wilayah jajahannya,
ia membuat surat Kew yang berisi perintah agar seluruh wilayah jajahan Belanda
diberikan kepada Inggris agar tidak jatuh kepada Prancis. Satu tahun kemudian
(1796) Heeren XVII dibubarkan oleh Prancis dan digantikan oleh konstitusi baru.
3.
Prancis
menjajah Indonesia
Pada
saat itu pemimpin Prancis adalah Napoleon Bonaparte, ia menyuruh adiknya untuk memerintah
di Hindia Belanda. Adik Napoleon Bonaparte itu bernama Louis Napoleon.
Gambar : Louis Napoleon (adik Napoleon Bonaparte)
Sumber: Biography.com
Louis
Napoleon mengirim Marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia (Jakarta Sekarang).Di
Batavia, Daendels didapuk menjadi gubernur Jendral .
Gambar: Marsekal Herman Willem Daendels
Sumber: Baca Babe
Ketika
Daendels tiba di Indonesia, waktu itu Yogyakarta dipimpin oleh
Hamengkubuwono II yang memiliki 1.765 orang pasukan, sangat berbanding terbalik dengan Belanda yang hanya memiliki 89
serdadu. Hal itu bukan tidak mungkin menjadi pikiran Daendels.
Gambar : Sultan Hamengkubuwono II (1750-1828)
Sumber: WikiTree
Daendels
menganggap bahwa seluruh wilayah Jogya dan sekitarnya adalah wilayah yang
dimiliki oleh Belanda. Ia melihat inflstruktur yang kurang memadai untuk
mendistribusikan hasil perkebunan Hindia Belanda. Akhirnya ia membuat peraturan
yang sangat kontroversial yaitu menyuruh pembuatan jalan dari Anyer sampai
Panarukan sepanjang 1.000 km.
Gambar: Peta jalan Anyer-Panarukan.
Sumber: SuratKabar.id
Hal
itu menyebabkan penentangan dari Yogyakarata, salah satu orang yang menentang
adalah Raden Rangga. Raden Rangga saat
itu menjabat sebagai Kepala pemerintahan sultan untuk wilayah luar negri.
Pada tahun 1810 Raden Rangga memberontak ke
Belanda, tapi dapat ditumpas. Akibat pemberontakan Raden Rangga itu,
menyebabkan Daendels murka dan mengultimatum Hamengkubuwono II.
Hamengkubuwono
II tidak menanggapi ultimatum tersebut, sehingga ditahun yang sama (1810) Daendels
dengan 3.200 serdadu menyerang Yogyakarta dan memaksa Hamengkubuwono turun
takhta.
Setelah
Hamengkubuwoono II turun takhta, Belanda menunjuk anaknya yaitu Hamengkubuwono
III untuk naik takhta menggantikan ayahnya.
Pada
bulan januari 1811, dibuat suatu perjanjian baru yang dibuat oleh Belanda dan
Yogyakarta yang menyebabkan wilayah Yogyakarta semakin mengecil.
4.
Inggris
menjajah Indonesia
Bahasan
mengenai Inggris menguasai Hindia Belanda lumayan rumit untuk di telaah, tapi
saya berusaha untuk menyambungkan literature-literaturnya.
Wilayah pertama yang di taklukan oleh
Inggris adalah Padang dan Malaka tahun 1795. Ambon dan Banda (1796). Dari sini dapat
disimpulkan bahwa Inggris sedang bersiap-siap untuk menaklukan Hindia Belanda.
Bulan mei 1811, Dandels diganti Jan Willem
Janssens. Pada 4 agustus 1811, 60 kapal Inggris menyerang Batavia. Batavia akhirnya
kalah ke tangan Inggris pada 26 agustus .
Pada 18 september Janssens meyerah di Salatiga dan menyerahkan Hindia
Belanda ke Inggris. Thomas Stamford Raffles menjadi gubernur di Jawa
Gambar: Thomas Stamford Raffles
Sumber: Pedoman Bengkulu
Dengan menyerahnya Belanda, secara
otomatis sejak saat itu Penjajah Hindia Belanda digantikan oleh Inggris. Pada
bulan Juni 1812 Inggris menyerang Yogya dan membuang sultan Hamengkubuwono II
ke Penang.
Pada 1814 Pakubuwono IV dan Sepoy
memberontak ke Inggris tapi dapat di tumpas . Dua tahun kemudian (1816) Jawa di
kembalikan ke Belanda.
5.
Belanda
kembali menjajah.
Setelah
perang Inggris dan Prancis selesai. Pada tahun 1816 Inggris mengembalikan Hindia
Belanda ke Belanda. Pada tahun 1823 Gubernur Jendral G.A.G.Ph. Van der Capellen
membuat kebijakan penghapusan sewa tanah.
Gambar: Van der Capellen
Sumber: Commons.Wikipedia.org
6.
Perang
Jawa (Belanda Vs Diponegoro)
Latar
belakang perang Jawa dimulai sejak bulai mei 1825, pada saat itu Belanda
membuat jalan Tegal Reja ynag melewati makam leluhur Mataram sehingga Pangeran
Diponegoro marah.Dan dua bulan kemudian tepatnya pada juli 1825, Perang jawa di
mulai.
Gambar: Pangeran Diponegoro
Sumber: Hipwee.com
Jalannya
perang Jawa dapat di singkat di bawah ini:
a)
Pada
bulan oktober 1826 Pasukan Yogya yang dipimpin pangeran Diponegoro dikalahkan
oleh Belanda, sehingga pangeran Diponegoro melakukan perang secara gerilya.
b)
Tahun
1827 Belanda membuat Benteng Stelsel, sehingga pangeran Diponegoro di
kejar-kejar oleh Belanda.
c)
November
1828, Kyai Maja (kubu Diponegoro) menyerah ke Belanda.
d)
September
1829 , Pangeran Mangkubumi (Paman Diponegoro) menyerah ke Belanda
e)
Oktober
1829, Sentot (Anak Raden Rangga) juga menyerah ke Belanda
f)
Maret
1830 , Pangeran Diponegoro berunding dengan Belanda, dan berakhirlah perang
Jawa.
7.
Kesimpulan
Indonesia di
tahun 1800-1830 mengalami banyak peristiwa yaitu , yaitu
a)
Pendudukan
Belanda yang menggantikan VOC (1800-1808)
b)
Pendudukan
Prancis di bawah jendral Louis Napoleon (1808-1811)
c)
Pendudukan
Inggris (1811-1816)
d)
Pendudukan
Belanda kembali (dari 1816-1942)
e)
Perang
Jawa (1825-1830)
Sumber di rangkum dari Mc. Ricklefs (2008) : Sejarah Indonesia modern
1200-2008, hal. 243-258











Komentar
Posting Komentar