Makalah Dinasti Qin s/d Han


PERKEMBANGAN DINASTI-DINASTI CHINA
MULAI DARI  QIN SAMPAI HAN



MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Sejarah Asia Timur
Dosen Pengampu :Oka Agus Kurniawan., S.pd., M.Pd













Oleh :

            Tio Rambe Putra                     182171031     
            Muhammad Ikfi Faiz Fuadi    182171033     
            Salimudin                                182171034     
           
           
                       
           



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2019


KATA PENGANTAR


            Alhamdulillahirabbil’alamin. Dengan menyebut nama Allah Swt. yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga kami dapat menulis serta menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Dinasti Dinasti China Mulai dari Dinasti Qin sampai Dinasti Han”.
            Makalah kami ini, akan memaparkan tentang bagaimana perkembangan dinasti di China, dari mulai awal berdirinya Dinasti Qin sampai runtuhnya Dinasti Han. Penyusunan makalah ini penulis buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Asia Timur. Penulis berharap dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya tentang beberapa dinasti yang ada di China.
            Menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca dan dosen pengajar mata kuliah ini untuk melengkapi segala kekurangan dan kesalahan dari makalah ini.
            Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kedepannya.
                                                                                           




Tasikmalaya, 27 Agustus 2019







DAFTAR ISI
LEMBAR PENERIMAAN ………………………………………………....   i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................   iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
C. Tujuan Penyusunan......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.  Dinasti Qin…………………………………………...……………….……   3
B.  Dinasti Han Barat…………………………………………………….……   9
C.  Dinasti Xin……………………………………………………..…….……   13
D.  Dinasti Han Timur…………………………………….……………....…...  15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………… ….   19  
B. Saran  ……………………………………………………………………..    19  
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang Masalah
China merupakan negara yang terletak di Asia Timur. China memiliki sejarah yang kaya hingga sampai kepada keadaannya yang sekarang. Sejarah China dimulai dari semi mitologikal Dinasti Xia hingga sejarah bangkitnya komunisme.
Dalam makalah ini penulis membahas tentang Dinasti Qin yang merupakan dinasti pertama yang berhasil menyatukan China. Dibawah kekuasaan Qin Shi Huang, China berada dalam pimpinan yang tegas dan keras karena pengaruh legalisme.
Namun kekuasaannya tidak bertahan lama, dinasti ini mengalami kemunduran sepeninggal Qin Shi Huang. Kekaisaran ini jatuh pada masa perang saudara. Timbul berbagai pemberontakan yang akhirnya dimenangi oleh Liu Bang.
Liu Bang ini nantinya akan mendirikan dinasti Han. Dinasti ini bertahan cukup lama dan mengembalikan ajaran konfucius yang sebelumnya dilarang oleh Qin Shi Huang. Namun kekaisaran ini melemah dan akhirnya tahta kekaisaran direebut oleh Wang Mang.
Wang Mang mengangkat dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xin. Ia menetapkan kebijakan yang tidak disukai baik oleh para aristocrat maupun para tuan tanah. Kekuasaannya tidak bertahan lama dan akhirnya dikalahkan oleh Liu Hsiu.
Liu Hsiu berhasil mengalahkan dinasti Xin dan mengembalikan China kepada kekuasaan dinasti Han. Pada masa dinasti Han Tinur terjadi kemajuan baik dalam bidang kesehatan maupun pengetahuan. Pada masa ini kekaisaran dapat bertahan secara stabil.
Namun sama seperti dinasti sebelumnya, dinasti Han Timur akhirnya runtuh juga. Kaisar terakhir Han diturunkan oleh Cao Pi yang nantinya akan menimbulkan masa Tiga Kerajaan yang merupakan masa perang antara Wei, Wu, dan Shu. Dengan ini maka China kembali pecah berkeping keping.
  1. Rumusan Masalah
               Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.             Bagaimana perkembangan dinasti Qin
2.             Bagaimana perkembangan dinasti Han Barat
3.             Bagaimana kondisi china pada masa dinasti Xin
4.             Bagaimana perkembangan dinasti Han Timur

  1. Tujuan Makalah
        Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1.                Mengetahui perkembangan dinasti Qin
2.                Mengetahui perkembangan dinasti Han Barat
3.                Mengetahui kondisi china pada masa dinasti Xin
4.                Mengetahui perkembangan dinasti Han Timur


BAB II
PEMBAHASAN

A.       DINASTI QIN
1.         Awal Mula Dinasti Qin Berkuasa di China
China merupakan suatu negara yang berada di Asia Timur. Negara ini memiliki banyak sekali sejarah dan peradaban tua. Peradaban ini dimulai dari lembah Sungai Kuning dan diisi oleh berbagai dinasti. Salah satu dinasti yang pernah memerintah China adalah dinasti Qin.
Dinasti Qin adalah Kekaisaran yang memerintah China sejak 326 SM sampai dengan 6M. Dinasti Ch’in ini didirikan oleh Ch’eng. Dalam waktu 30 tahun setelah dinasti Chou berakhir, negara Vasal Ch’in berhasil meaklukan 6 vasal yang lain di bawah Ch’Eng . Selanjutnya Ch’Eng ini mendirikan dinasti Ch’in (Leo Agung, 2007:19).
Bekas vassal dari dinasti Zhou yang nantinya akan mendeklarasikan diri menjadi kerajaan berhasil ditaklukkan dibawah salah satu kerajaan, yakni kerajaan Qin. Dengan kemenangan ini, Yi Zheng berhasil menunjukkan dominasinya dengan mengangkat dirinya sebagai kaisar pada tahun 221 SM.
                         Gelar kaisar merupakan sesuatu yang baru di China. Gelar yang disebut dengan Huangdi ini berdasarkan dari saga mitologi yakni tiga huang dan lima di yang berkuasa pada awal sejarah China. Dengan menggabungkan dua gelar tersebut, maka huangdi dapat dikatakan sebagai kaisar. Sehingga, Yi Zheng disebut sebagai Qin Shi Huangdi atau kaisar pertama dari Qin (Mayhew, 2012:407).              
                        Dengan mengangkat dirinya sebagai kaisar, Yi Zheng berhasil menjadi orang pertama yang dapat menyatukan China. Dengan kekuatan yang ia miliki, Yi Zheng dapat menerapkan berbagai kebijakan di China yang berbasis pada legalisme.
                        Dengan legalisme, Qin Shi Huang memerintah China dengan tangan besi. Dengan hukum yang berbasis pada Legalisme,


hukum tidak hanya berlaku pada rakyat jelata saja, melainkan juga kepada para bangsawan. Kebijakan berbasis legasisme ini akan merubah tatanan sosial dan politik di China.
2.         Kebijakan Dinasti Qin di China
Dalam pemerintahannya, dinasti Qin menerapkan pemerintahan yang tersentralisasi, tidak bersifat feudal, dan tidak turun temurun. Selama berkuasa Dinasti Qin menerapkan beberapa kebijakan yang memiliki peengaruh terhadap politik, sosial budaya, dan ekonomi.
a.         Politik
Kaisar Qin Shi Huang memiliki visi untuk menyatukan China. Ia belajar dari jatuhnya Zhou bahwa sulit untuk mempertahankan China yang bersatu apabila tiap daerah diperintah oleh bangsawan yang memiliki pandangan yang berbeda. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menghapus feodalisme.
Dinasti Qin menghapus gelar bangsawan secara waris, sehingga hanya orang yang berjasa dalam perang yang dapat menjadi bangsawan. Namun, kebangsawanan tersebut tidak diturunkan kepada anak cucunya (FX Sutopo, 2014:41).
Dengan penghapusan feudalism, kaisar memastikan bahwa hanya orang yang pantas yang dapat mengisi pemerintahan. Selain itu, ini juga mencegah disintegrasi yang sudah dialami oleh dinasti Zhou. Wilayah wilayah di China akan dipecah menjadi beberapa struktur administrasi.
Kekaisaran Qin dipecah menjadi 36 chun atau komanderi. Setiap chun diperintah bersama oleh chun shou yang bertugas dalam administrasi dan chun wei dalam keamanan. Tiap chun diawasi oleh chun-yu-shish yang bertugas menyelasaikan berbagai masalah dan pelaporan pada kaisar. Jabatan ini diganti setelah beberapa tahun (Mayhew, 2012:407).
Kebijakan ini merupakan sesuatu yang bersifat revolusioner bagi China. Daerah yang dulunya diperintah oleh bangsawa secara hederitari telah diganti dengan pejabat dari pemerintah. Selain itu dengan pergantian pejabat akan mencegah para chun untuk menyusun kekuatan.
b.         Sosial Budaya
Dalam perkembengannya, Kaisar Qin Shi Huang membuat berbagai kebijakan yang juga berdampak pada kehidupan sosial dan budaya. Dalam hal ini salah satunya berdampak pada tatanan keluarga di China.
Qin Shi Huang melarang terciptanya keluarga besar, yakni bila satu keluarga terdiri dari dua kepala keluarga maka keluarga tersebut harus membayar pajak ganda. Dengan cara ini akan mendorong masyarakat untuk menciptakan rumah tangga sendiri serta mengembangkan populasi rakyat (FX. Sutopo, 2014:41).
Dari sini kita dapat melihat bahwa Qin Shi Huang menginginkan masyarakat agar lebih mandiri dan tidak bergantung pada keluarga. Selain itu, dengan pemecahan keluarga menjadi unit yang kecil akan mencegah penciptaan keluarga besar yang dapat menyusun kekuatan terhadap Qin Shi Huang. Namun, sekalipun Kaisar Zheng melakukan banyak pemecahan, ia juga melakukan penyatuan, salah satunya penulisan.
Dalam penulisan di China terdapat berbagai macam cara penulisan tergantung dari wilayahnya. Dengan menyatukan penulisan, bukan hanya mempermudah dalam administrasi dan ekonomi tetapi juga mendorong inovasi dan kemajuan teknologi (Mayhew, 2012:408).
Langkah yang dilakukan oleh Qin Shi Huang merupakan salah satu caranya untuk mewujudkan visinya, yakni unifikasi China. System penulisan ini juga nantinya akan memengaruhi bahasa China kedepannya.
Namun, Qin Shi Huang memiliki paranoia terhadap para cendekiawan konfucius. Hal ini disebkan banyaknya cendekia konfucian yang mengkritik kebijakan dari Qin Shi Huang. Sehingga ia melakukan pembersihan terhadap para confucianis.
Pada tahun 213 SM, Qin Shi Huang memerintahkan pembakaran buku buku berbau politik dam buku yang diperbolehkan hanyalah buku yang berkaitan dengan pertanian dan medis. Qin Shi Huang takut apabila buku berbau politik dibiarkan dapat memecah belah negara yang baru terbentuk.
Namun pada dasarnya “Pembakaran buku” yang digemborkan para cendekiawan konfucianisme hanyalah penyitaan dan cetakan aslinya masih tersimpan dalam perpustakaan Qin (Mayhew, 2012:411).
Para sajana yang menolak menyerahkan kitab-kitab berbau politik akan dikubur hidup hidup. Buku yang dimusnahkan adalah buku yang bertentangan dengan aliran Fajia. Namun, buku yang ada tidak semuanya dibakar, buktinya banyak orang yang memiliki buku beraliran konsianisme pada masa dinasti Han (FX.Sutopo, 2014:43).
Dari dua pernyataan ini kita dapat mengetahui bahwa buku yang disita atau dimusnahkan hanyalah buku yang beresiko menimbulkan pemberontakan akibat kebijakan Qin Shi Huang yang revolusioner. Sedangkan buku buku mengenai medis dan pertanian masih dapat beredar luas.
 Selain itu, mengenai pembakaran buku yang digemborkan dapat dikatakan sebagai gemboran para sarjana konfusiunis yang merupakan oposisi terhadap Qin Shi Huang. Sehingga apa yang kita dengar sekarang mengenai Qin Shi Huang bisajadi merupakan hasil penulisan dari para konfusianis yang bias pada masa dinasti Han.
c.         Ekonomi
Kekaisaran Qin merupakan sebuah negara dengan ekonomi yang bergantung kepada pertanian. Beberapa kebijakan yang Qin Shi Huang buat berkaitan dengan pertanian. Beberapa diantara kebijakannya adalah redistribusi lahan dan juga pembukaan lahan lahan baru oleh rakyat China.
Qin mengambil alih kepemilikan lahan dan membagikannya kembali kepada para kepala keluarga sesuai jabatan mereka. Ini memberikan negara control penuh atas tiap keluarga dan produksi ekonomi mereka. Selain itu, Qin juga mendorong rakyatnya untuk membuka lahan baru dan memberikan bebas pajak dalam waktu tertentu (Lander 313).
Dengan adanya redistribusi lahan ini dapat meratakan ekonomi terhadap masyarakat. Selain itu, dikarenakan tanah yang ada merupakan pemberian dari pemerintah, pemerintah dapat dengan leluasa menerapkan peraturan yang dikehendaki.
Selain itu, dengan pembebasan lahan akan mendorong pemerataan serta perluasan wilayah secara tidak langsung bagi dinasti Qin. Tetapi, untuk memudahkan roda ekonomi, maka Qin melakukan standarisasi satuan.
Qin membuat kebijakan untuk menyatukan segala macam ukuran, baik satuan panjang, ukuran kereta, lebar jalan raya, dan juga mata uang yang berbeda di tiap daerah. Hal ini dilakukan untuk memiliki standar satuan yang tetap (FX.Sutopo, 2014:42).
Dengan penyatuan satuan, maka visi Qin Shi Huang untuk menciptakan China yang bersatu terwujud. Dengan bersatunya China secara politik, bahasa, serta system satuan menjadi bukti bahwa Qin Shi Huang merupakan sosok kuat yang dapat menciptakan kebijakan yang terbilang modern pada jamannya.
3.         Kejatuhan Dinasti Qin
Dinasti Qin telah berhasil menyatukan seluruh China. Ia telah membuat berbagai kebijakan seperti pembangunan tembok Cina, penghapusan feodalisme, penyatuan system penulisan dan hituangan satuan serta berbagai kebijakan lainnya.
Namun sama seperti imperium besar yang lain, Kekaisaran Qin harus menemui keruntuhannya setelah 14 tahun berdiri. Kekaisaran yang besar ini memulai keruntuhannya saat kaisar Qin Shi Huang meninggal dunia
Pada tahun 210 SM, kaisar Qin Shi Huang meninggal dunia saat melakukan perjalanan. Seorang kasim Zhao Gao memalsukan surat yang isinya memerintahkan Fu Su untuk bunuh diri. Dan mengangkat Hu Hai sebagai Kaisar yang bergelar Er Shi Huang Di (Arthur, 1988:91).
Dengan matinya Fu Su dan naiknya Hu Hai menjadi Kaisar merupakan awal dari pemberontakan besar yang terjadi di dinasti Qin. Hal ini disebabkan lemahnya kaisar Hu Hai dan kemarahan rakyat serta golongan aristocrat terhadap kebijakan Qin Shi Huang.
Salah satu pemberontakan yang terkenal adalah pemberontakan Liu Bang, pada tahun 206 SM. Pemberontakan ini berhasil dan Ziying, kaisar terakhir Qin menyerah pada Liu Bang setelah 46 hari berkuasa (Sutopo, 2014:44).
Dengan menyerahnya Ziying kepada Liu Bang menandakan akhir dari kekaisaran Qin. Kekaisaran yang besar ini telah runtuh namun digantikan oleh kekaisaran jauh lebih kuat, kekaisaran Han dibawah Han Gaozou atau Liu Bang.




B.       DINASTI HAN BARAT
1.         Asal Usul Dinasti Han
Pada saat dinasti Qin runtuh tahun 206 SM, lima belas kerajaan terpisah telah menyetakan kemerdekaan mereka. Negara Han dan Chu muncul sebagai yang paling kuat, tetapi yang menang waktu itu adalah negara Han.
Kerajaan Han mulai berdiri sebagai gabungan dari lima belas wilayah yang di jalankan oleh pejabat- pejabat kerajaan dan sepuluh kerajaan otonom. Tahun tersebut terdapat sepuluh wilayah dan dua puluh kerajaan. Semua daerah taklukan baru di jadikan wilayah-wilayah pengawasan Han.(Septianingrum,2017:138)

Negara Han ini membuat kesepakatan dengan Chu, apabila salah satu dari mereka dapat lebih dulu mencapai ibu kota qin maka ia lah yang harus jadi pemimpin.  Kaisar pertama dinasti Han adalah Liu Bang. Setelah mendirikan dinasti, Liu Bang menobatkan dirinya sebagai kaisar yang bergelar Gaozu.
Liu Bang sendiri bukanlah merupakan seorang aristorkrat. Ia hanyalah rakyat biasa yang memimpin sekelompok “bandit” untuk memberontak. Liu Bang sendiri adalah seorang yang tidak bisa baca tulis. Ia juga bertingkah layaknya rakyat biasa. Namun dibalik itu semua dia adalah pemimpin yang adil (Arthur, 1988:92).
Dengan keberhasilan Liu Bang merupakan pembuktian kepiawaian Liu Bang dalam berperang serta kepemimpinan. Ia dapat dikatakan sebagai pemimpin rakyat, atau pahlawan rakyat melihat asalnya yang bukan berasal dari aristocrat.
Dengan kepribadiannya yang merakyat, serta Liu Bang sendiri yang berasal dari kalangan rakyat menimbulkan rasa percaya dari kalangan rakyat terhadap kaisar Liu Bang. Rakyat China percaya bahwa kaisar ini dapat membawa China kearah yang lebih baik.
Kaisar diawal masa dinasti Han bekerja dengan sungguh sungguh dan hati hati agar tidak mengalami kehancuran seperti apa yang telah dialami oleh dinasti Qin. Oleh sebab itu, Kekaisaran membuat berbagai kebijakan demi kestabilan Kekaisaran Han.
2.         Kebijakan Dinasti Han
Dalam perjalanannya Dinasti Han membuat berbagai kebijakan, didalamnya terdapat politik luar negri hingga kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Selain itu, Dinasti Han membuat berbagai kebijakan yang berkaitan dengan politik, sosial budaya, dan juga ekonomi.
a.         Bidang Politik
Aizid (2018:256) menjelaskan bahwa Selama tujuh tahun memerintah, Kaisar Han Gaozu mengembangkan penguasaan sentralisasi pemerintah dan menjalankan beberapa kebijakan politik “pemberdayaan rakyat”. Sehingga, kekuasaan negara menjadi lebih kuat.
Dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa Kaisar Gaozo memerintah dinasti Han selama 7 tahun dan membuat kebijakan yang sangat membuat rakyat semakin kuat yaitu pemberdayaan rakyat. Dikarenakan rakyat dapat mengisi posisi apabila memiliki bakat.
Pada tahun 159 M, Kaisar Han Gaozu meninggal dan kaisar Huidi naik takhta. Namun saat itu, kekuasaan sebenarnya di pegang oleh permaisuri Lu Zhi berkuasa secara berturut turut selama 16 tahun. Dngan demikian ia juga merupakan penguasa wanita yang jumlahnya tidaklah banyak di sejarah Tiongkok.
Pada masa kekuasaan Kaisar Wu Di, ia melebarkan supremasi Dinasti Han hingga ke Tonkin. Selain itu kerajaan Tibet dan Sichuan juga tunduk pada Kaisar Wu Di. Di selatan, Yunan juga tunduk kepada Han, sementara di utara Kaisar Wu Di berhasil menangkis Xiongnu (Arthur, 1988:107).
 Dengan ini Kaisar Wu Di tampil sebagai kaisar yang kuat secara milter karena berhasil memperluas supremasi Dinasti Han. Namun perang dengan XiongNu di utara menguras kas Kekaisaran Han dan nantinya menjadi penyebab runtuhnya dinasti Han.
b.         Bidang Ekonomi
Tahun 183M, Kaisar Wendi naik takhta. Kaisar wendi ini membuat kebijakan pemulihan ekonomi untuk pemberdayaan rakyat.
“Kebijakan pemberdayaan rakyat yang di maksudkan untuk mengembangkan ekonomi, kehidupan rakyat stabil dan tentram, ekonomi mereka pun makmur. Dengan demikian, pemerintahan dinasti Han berjalan lancar dan stabil” (Aizid, 2018:257).

Dari kutipan di atas dapat diambil pemahaman bahwa pemulihan ekonomi pada saat Wendi memimpin dinasti Han menyebabkan bertambah kuatnya dinasti Han dan itu juga yang mendorong kaisar Wendi untuk melakukan peperangan.
Pada masa kekuasaan Dinasti Han muncul jalur perdagangan yang menghubungkan China dengan Barat. Dengan adanya jalur sutra ini menyebabkan dinasti Han maju dalam hal perdagangan. Menurut Septianingrum (2017:201)
“Jalur sutra tidak hanya digunakan untuk perdagangan . Fungsi lain dari jalur sutra adalah komunikasi dan pertukaran gagasan-gagasan antar pedagang luar negri. Mereka bertemu tidak hanya melakukan jual beli semata. Jauh lebih penting orang-orang dari luar negri bertemu disana justru penasaran dengan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan pengayaan teknologi- eknologi terbaru yang di capai oleh orang-orang luar negri lain yang mereka temui.”

Dengan terbukanya jalur sutra menjadikan dunia Barat dan Timur terhubung. Bukan hanya  perdagangan antara Timur dan Barat, melainkan juga pertukaran pemikiran dan teknologi yang menjadikan kedua peradaban ini mengalami kemajuan.
c.         Bidang Sosial Budaya
Dinasti Han membuat berbagai kebiajakan yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan budaya. Dalam hal ini salah satunya berdampak pada pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang penting yang bahkan disadari oleh Kaisar Han Gaozou.
Pada masa kekuasaan Dinasti Han, dibangun sekolah di Ch’ang yang mendapatkan sekitar tiga puluh ribu siswa. Dengan sekolah ini, Dinasti Han dapat mencari talenta kepimpinan bahkan dari kalangan rendah sekalipun untuk menjadi pegawai pemerintahan (Septianingrum, 2017:140-141).
Hal ini menjadi bukti bahwa dinasti Han sangat peduli terhadap pendidikan. Dengan kebijakan ini pemerataan terhadap masyarakat semakin berkembang. Hal ini nantinya juga mendorong kemajuan bagi dinasti Han dalam hal pendidikan.
3.         Keruntuhan Dinasti Han Barat
Keruntuhan Dinasti Han sudah mulai terlihat bahkan sejak masa kekuasaan Han Wudi. Hal ini disebabkan perang berkepanjangan dengan bangsa Xiongnu di utara China. Hal ini menyebabkan keuangan negara semakin menipis sementara pajak kepada petani semakin meningkat.
Kejatuhan Dinasti Han dimulai pada masa Kaisar Ch’eng Ti, dimana pada masa itu kekuasaan yang sebenarnya dipegang oleh janda dari Kaisar Yuan Ti. Ia menempatkan saudara dan sepupunya pada posisi pemerintahan yang strategis. Keluarga Wang semakin kuat dalam perpolitikan Han dan tokoh yang paling berpengaruh adalah Wang Mang (Eberhard, 2004:100).
Dengan lemahnya ekonomi Han serta kaisar yang tidak memiliki kekuatan, Dinasti Han semakin melemah. Pemberontakan terjadi dimana mana dan dengan semakin kuatnya pengaruh Wang Mang dalam istana, ia merebut tahta kekaisaran dan menandakan akhir dari kekuasaan dinasti Han.



C.       DINASTI XIN
1.         Keadaan China di awal Xin
Dinasti Xin berdiri pada 9 . Berdirinya dinasti Xin dimulai dengan kemunduran dinasti Han akibat perang berkepanjangan dengan XiongNu. Hal ini menyebabkan timbulnya ketidaksukaan dari rakyat. Melihat kondisi ini, Wang Mang mengambil kesempatan untuk menjadi kaisar di China.
Saat kaisar Han Ai Ti meninggal dunia, Wang Mang bertugas sebagai wali dan mengangkat kaisar Ping yang baru berusia 8 tahun. Tidak lama, kaisar Ping meninggal dan digantikan putra mahkota Ying yang berusia 1 tahun. Melihat waktunya telah tiba, Wang Mang mengambil alih tahta kaisar dan mendirikan dinasti Xin (Eberhard, 2004:100)
Dengan direbutnya tahta dari putra mahkota Ying maka kekaisaran Han berakhir berkat intrik istana yang dilakukan oleh keluarga Wang. Namun kekaisaran Xin tidak berumur lama, karena nantinya pemberontakan akan pecah berkat kebijakan Wang Mang yang kontroversial.
2.         Kebijakan dinasti Xin
Kebijakan-kebijakan pada saat Wang Mang berkuasa menurut (Leo, Agung 2012:33) adalah sebagai berikut:
a.)  Menasionalisasi tanah-tanah milik tuan tuan tanah dan membaginya kepada para petani secara merata
b.) Mendirikan lumbung-lumbung desa, ia mencoba untuk mengendalikan harga dengan cara membeli barang-barang di waktu panen dan menjualnya di waktu paceklik;
c.)  Mengadakan peminjaman uang dengan bunga 10% pelunasannya pada waktu panen dan menjualnya di waktu paceklik
d.) Mengadakan monopoli pembuatan dan penjualan garam, arak, besi, tambang dan juga sumber-sumber lain serta percetakan uang
e.)  Melarang perdagangan budak
Dari kutipan di atas dapat penulis simpulkan bahwa dimasa Wang Mang ini para rakyat kecil sangat di perhatikan olehnya. Hal itu dapat dilihat dari kebijakan-kebijakannya yang sangat pro rakyat. Namun kebijakan  yang ia buat menyebabkan banyak ketidaksukaan kepadanya, terutama dari para tuan tanah dan aristokrat.
3.         Keruntuhan Dinasti Xin
Kebijakan-kebijakan yang dilakukan Wang Mang sangatlah di dukung oleh rakyat tetapi membuat kalangan pihak-pihak yang berkepentingan. Terutama para bangsawan, tuan tanah, serta para pendukung Dinasti Han.
Perubahan yang dilakukan oleh Wang Mang ini menyebabkan pihak-pihak tertentu tidak menyukainya, hingga timbulah kekacauan.(Agung, 2012:33)

Dengan berbagai kebijakan yang Wang Mang buat menimbulkan banyak pemberontakan terhadap Wang Mang. Beberapa diantaranya adalah Alis Merah dan Han restorasionis. Hal ini semakin parah saat pemberontak mencapai ibukota.
Pada 22 M, pemberontak memasuki ibukota. Wang Mang yang pada saat itu berada di istana tidak melarikan diri. Ia duduk di tahta istana dan berusaha melawan pemberontak dengan kekuatan kata katanya. Ia mati dipenggal oleh pemberontak (Eberhard, 2004:105).
Dengan terbunuhnya Wang Mang menandakan akhir dari Dinasti Xin yang singkat. China terus bergolak antar para pemberontak demi merubut mahkota China. Dari semua pemberontakan Liu Hsiu muncul sebagai pemenang dan mengembalikan China kepada dinasti Han.



D.       DINASTI HAN TIMUR
1.    Asal usul Dinasti Han Timur
Setelah kematian Wang Mang, China berada dalam kekacauan. Pemberontakan terjadi dimana mana, dalam perang saudara ini Liu Hsiu berhasil memenangi peperangan dan mengangkat dirinya sebagai kaisar bergelar Guangwu pada 25 M. Dengan naiknya Guangwu sebagai kaisar, maka China kembali berada dibawah dibawah dinasti Han.
Guangwu tampil sebagai kaisar dan memindahkan ibukota ke Luoyang. Namun pada saat itu terjadi pemberontakan di Luoyang yang dapat dipadamkan oleh jendral perangnya Ma Yuan. Pada masa kekuasaan Guangwu, ia menghapus kebijakan yang dibuat Wang Mang dan memfokuskan perhatiannya kearah pendidikan (Leo Agung, 2012:34).
Dengan perpindahan ibukota ke Luoyang maka Han yang dibentuk oleh Guangwu disebut juga Han Timur. Kebijakannya yang memfokuskan pada pendidikan menyebabkan banyaknya penemuan yang ada pada masa Dinasti Han.

3.         Kebijakan Dinasti Han Timur
Pada masa kekuasaan Dinasti Han, dinasti ini membuat berbagai kebijakan terutama yang berkaitan dengan bangsa Xiongnu dan juga pendidikan. Dalam hal ini kebijakan yang dilakukan oleh Dinasti Han Timur meliputi politik, sosial budaya, dan ekonomi.
a.         Bidang Politik
Pada masa kekuasaan Dinasti Xin, Wang Mang menciptakan kebijakan yang merugikan golongan aristocrat serta pemilik tanah. Oleh sebab itu, pada masa kekuasaan Dinasti Han Timur, kebijakan kebijakan ini dihapuskan. Selain itu, Han Timur juga meluaskan politik luar negrinya
Wilayah seperti Annam, Tongking, Yunnan, dan Kanton yang sebelumnya lepas pada masa perang saudara dapat dikuasai kembali berkat jendral Ma Yuan. Selain itu, bangsa Xiongnu yang dulunya menyerang China kini melemah dan tunduk terhadap dinasti Han, beberapa wilayah diselatan Xiongnu bahkan bergabung dengan China (Eberhard, 2004:106-107).
Hal ini menjadi bukti bahwa China kembali menjadi kekuatan besar di Asia. Dinasti Han kembali pada kejayaan dan militernya disegani oleh musuh musuhnya. Dengan melemahnya Xiongnu juga menciptakan jalur dagang yang aman bagi China.
b.         Bidang Sosial Budaya
Pada masa kekuasaan dinasti Han Timur, pendidikan menjadi salah satu focus utama. Dengan majunya pendidikan maka pada masa dinasti ini tercipta berbagai penemuan yang menjadi sebuah bukti kemajuan China dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.
Pada masa ini, Zhang Heng yang merupakan ilmuan Dinasti Han Timur berhasil menemukan globe dan seismograf. Sementara itu, dalam bidang kedokteran terdapat Han Tuo yang merupakan pelopor penggunaan obat bius dalam operasi. Han Tuo juga dikenal sebagai pakar kandungan (Septianingrum, 2017:143).
Dengan berbagai penemuan tersebut, China maju sebagai pusat ilmu pengetahuan dan budaya. Penemuan ini merupakan bukti keberhasilan sekolah sekolah yang didirikan oleh didirikan oleh dinasti Han Timur.
c.         Bidang Ekonomi
Dinasti Han Timur memiliki ekonomi yang cukup stabil. Hal ini didukung juga oleh keamanan politik yang ada di Dinasti Han serta berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Berbagai kebjiakan dinasti Han Timur juga berdampak pada ekonomi Dinasti Han termasuk diantaranya perpindahan ibukota ke Luoyang.
Dengan pemindahan ibukota ke Luoyang yang merupakan penghasil gandum yang besar. Dengan ibukota yang berada di daerah penghasil gandum maka biaya angkut serta pajak lainnya akan semakin murah. Pada masa ini Dinasti Han mengalami pemulihan ekonomi yang baik (Eberhard, 2004:105).
Dengan pemulihan ekonomi maka Dinasti Han Timur dapat mengembalikan kejayaan yang pernah dialami oleh Dinasti Han Barat. Dengan ekonomi yang baik maka dapat menopang ekspedisi militer Han ke berbagai penjuru China hingga Turkestan.
Selain itu dengan wilayah Asia Tengah yang sekarang relative stabil serta tunduknya bangsa Xiongnu terhadap China maka jalur perdagangan dengan Barat dapat kembali normal dan aman untuk dilalui. Ini nantinya akan menambah kas Kekaisaran Han.
4.    Keruntuhan Dinasti Han Timur
Sama seperti dinasti dinasti lain yang pernah berkuasa di China. Dinasti Han Timur juga harus menemui keruntuhannya. Terlepas dari kesuksesan Dinasti Han Timur dalam pengetahuan serta ekonomi, kekaisaran ini jatuh kedalam perang berkepanjangan.
Konflik dengan bangsa Qiang menyebabkan Kekaisaran membutuhkan banyak tentara serta uang untuk gaji dan perawatan perlengkapan. Perang ini menyebabkan Kekaisaran Han mengalami kebangkrutan dimulai sekitar tahun 100 M, perang ini juga menyebabkan korban jiwa yang besar bagi keduabelah pihak (Wicky Tse, 2012:260).
Dengan adanya perang berkepanjangan dengan bangsa Qiang. menyebabkan keuangan Han menipis. Sekalipun Han dapat menahan serangan bangsa Qian, namun kerugian yang disebabkan tidak dapat dipulihkan, hal ini juga menjadi titik awal dari kehancuran dinasti Han Timur.
Setelah perang ini, Dinasti Han tidak lagi memiliki kekuatan yang dimiliki seperti dahulu kala. Kekaisaran yang awalnya memiliki kondisi politik dan ekonomi yang stabil telah berubah menjadi kekaisaran yang rapuh tanpa kekuatan yang berarti. Faksi faksi pun terbentuk baik di kalangan istana maupun kalangan para jendral.
Konflik antar faksi diawali oleh para kasim serta cendikiawan untuk merebut pengaruh terhadap kaisar, karena kaisar sudah tidak punya kekuatan apa apa lagi, para jendral yang bertugas ditiap provinsi berusaha merebut kaisar Hsien Ti (190-220) agar nantinya dapat mengambil alih pemerintahan. (Eberhard, 2004:110).
Konflik ini menyebabkan China semakin terpecah kedalam berbagai macam faksi, semua dengan satu tujuan yakni tahta kekaisaran China. Kaisar Hsien yang saat itu hanyalah seorang anak anak hanya menjadi kaisar boneka tanpa kekuatan apa apa, sampai nantinya ia jatuh ketangan Cao Cao.
Dengan jatuhnya Kaisar ketangan Cao Cao maka Cao Cao dapat membuat berbagai kebijakan atas nama kaisar. Namun pada 220 SM, Cao Pi menurunkan Hsien Ti dari tahta dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Wei. Sementara Sun mendeklarkan dirinya sebagai kaisar Wu pada 229 M, dan Liu Bei sebagai kaisar Shu tidak lama setelahnya (Arthur, 1988:127).
Dengan diturunkan Hsien Ti dari tahta kaisar menandakan akhir dari kekaisaran Han. China nantinya akan jatuh pada masa Tiga Kerajaan dengan perang diantara Wei, Wu, dan Shu demi merebut tahta kekaisaran China. Dengan ini maka China hanya butuh waktu sampai muncul pemenang diantara mereka bertiga sebagai sosok yang sekali lagi akan mempersatukan China.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


A.    KESIMPULAN
           
        Dinasti-Dinasti yang berada di antara Qin dan Han itu ada 4 Yaitu Qi, Han Barat, Xin, dan Han Timur, ke 4 dinasti itu nantinya bakal memberikan pengaruh ke masa depan China. Adapun pengaruh dari semua dinasti tersebut adalah tentang tulisan, tradisi, dan bahsa yang menjadi cikal bakal China modern sekarang.
Namun dinasti dinasti ini tumbang silih berganti, bangngkit sebagai kekuatan besar dan tumbang sedikit demi sedikit dari dalam. China yang terpisah telah disatukan oleh Qin, Han yang bersatu telah dipisahkan oleh Cao Cao. Dan membangkitkan masa Tiga Negara. Dengan dinasti dinasti ini, China serta dunia dapat meraih pelajaran akan persatuan dan perpisahan darinya.
         
           
B.     SARAN
           Semoga para pembaca dan penulis yang sama dapat menggunakan makalah ini sebagai sumber bacaan yang utama tentang dinasti-dinasti antara Qin sampai Han 










DAFTAR PUSTAKA
Agung, Leo (2007), Sejarah Asia Timur, Surakarta:LPP UNS.
Aizid, Rizem (2018), Sejarah Terlengkap Peradaban Dunia: Dari Masa Sebelum Masehi Hingga Modern, Yogyakarta: Noktah.
FX, Sutopo. (2014). China: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media
Cotterell, Arthur. (1998), China: a Concise Cultural History, London: John Murray, ltd.
Septianingrum, Anisa (2017), Sejarah asia timur: dari masa peradaban kuno hingga modern, Bantul : Sociality
Mayhew, Gregory L (2012), The Formation of The Qin Dynasty: A Socio-technical System of Systems, Saint Louis: Saint Louis University
Lander, Brian G (2015), Enviromental Change and the Rise of the Qin Empire: A Political Ecology of Ancient North China, New York: Columbia University
Eberhard, Wolfram (2004), A History of China , Los Angeles: University of California
Wicky Tse, Wai Kit (2012), Dynamic of Disintegration: The later Han Empire (25-220 CE) & Its Nortswestern Frontier, Philadelphia: Univresity of Pennsylvania



Komentar